Psikolog Ungkap Dampak Bentakan VIRAL Ospek Online Unesa Benarkah Bisa Membentuk Mental

Media sosial akhir akhir ini diramaikan dengan viralnya potongan video kegiatan orientasi studi dan pengenalan kampus (ospek) secara online yang diselenggarakan Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Jawa Timur. Dalam video yang beredar, Panitia Pengenalan Kehidupan Kampus untuk Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) diduga membentak mahasiswa baru yang kedapatan tak memakai ikat pinggang. Lantas bagaimana dampak bentakan?

Psikolog R Yuli Budirahayu dari Jasa Psikologi Indonesia (JASPI) Surakarta mengungkapkan bentakan termasuk kekerasan dalam bentuk verbal. Orang yang dibentak disebut Yuli akan merasa ada tekanan dan bisa bermasalah dalam interpersonal dan psychosocial. "Bisa timbul rasa takut maupun malu," ungkapnya.

Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku menyeluruh. "Tapi kalau orangnya (yang dibentak) itu cuek, tidak terlalu bermasalah," ungkap Yuli. Kepribadian mahasiswa yang dibentak disebut Yuli menjadi faktor utama.

"Tergantung cara mahasiswanya menanggapi situasinya," ucapnya. Yuli juga menjelaskan bentakan secara langsung tatap muka memiliki dampak yang berbeda dibanding bentakan secara daring. "Situasi online berbeda dengan offline, kalau offline kan mereka langsung tatap muka."

"Kalau online mereka di rumah, ada yang ketika dimarahi masih merasa aman karena tidak bertemu secara langsung," ungkap Yuli. Menanggapi hal tersebut, Yuli menyebut pelaksanaan masa orientasi harus disesuaikan dengan tujuannya. Apakah dengan bentakan tujuan ospek bisa didapat dengan baik.

"Tujuan ospek adalah pengenalan kampus, harusnya tidak selalu dengan bentakan tapi mengetahui lingkungan kampus sehingga mengetahui apa yang harus dilakukan," ungkapnya. "Apalagi dengan metode online, kita harus lebih berhati hati dalam penyampaian," imbuh Yuli. Meski bentakan bertujuan untuk mendisiplinkan mahasiswa baru, Yuli menilai tidak harus dilakukan dengan bentakan maupun kata kata keras.

"Menurut saya alangkah lebih baik betul betul mengenalkan lingkungan kampus ke mahasiswa baru." "Kalau kelak menemui kesulitan, tahu harus bagaimana, menemui siapa dan melakukan apa, itu lebih efektif," ungkapnya. Selain itu, Yuli menyebut bentakan saat ospek bisa saja terjadi karena bentuk "perilaku membalas" dari senior dulu.

Kemudian menjadi sebuah culture atau budaya. "Terkadang kalau senior melakukan bentakan, hal itu karena mereka pernah mengalami sebelumnya, ketika saat ini menjadi senior, ada anggapan bisa melakukan hal yang sama ke juniornya." Hal itu dilakukan tanpa melihat apakah perlu atau tidak, apakah penting atau tidak.

"Nah bisa jadi nantinya menjadi culture di sebuah lingkungan, seperti bentakan bentakan saat ospek," ungkap Yuli. "Semakin bertambah tahun, seharusnya panitia ospek lebih memikirkan konsep yang lebih efektif," imbuhnya. Yuli menyebut, para mahasiswa baru di awal saat ospek akan mematuhi segala perintah dan aturan yang disampaikan senior.

"Saat itu mereka tidak bisa menolak, tapi kalau sudah berproses ya tergantung pada diri sendiri," ujarnya. Sementara itu Rektor Unesa, Prof Dr Nurhasan, M.Kes menyayangkan kejadian yang terjadi di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) tersebut. Mengenai Iangkah penanganan terkait hal tersebut, pihak Unesa menyebut bersama pimpinan kemahasiswaan dari Fakultas terkait telah memberikan evaluasi sekaligus bimbingan kepada mahasiswa yang bersangkutan.

"Seluruh masalah yang ada akan diselesaikan dengan cara kekeluargaan," imbuhnya. Sementara itu poin selanjutnya menyebut Unesa mendukung pelaksanaan PKKMB guna menambah wawasan terkait dunia kampus untuk mahasiswa baru agar cepat beradaptasi dalam menyukseskan pembelajaran di lingkup Pendidikan Tinggi tanpa adanya aksi kekerasan dalam bentuk apapun. "Sehingga, diharapkan dapat tercipta lingkungan institusi pendidikan yang kondusif dan aman demi terciptanya lulusan yang berkualitas," ungkap Nurhasan.

Lebih lanjut, Unesa menjadikan kejadian ini sebagai catatan evaluasi penting yang diharapkan menjadi masukan untuk perbaikan dalam pengelolaan kegiatan kemahasiswaan ke depan. "Kami mengucapkan terima kasih atas semua perhatian berupa kritik ataupun saran kepada Unesa." "Kondisi ini dapat dilihat sebagai kecintaan masyarakat pada institusi pendidikan," ungkap Nurhasan.

Sebelumnya diketahui potongan video PKKMB FIP Unesa 2020 ramai setelah diunggah akun Twitter @skipberat . Video tersebut bedurasi 30 detik. Dalam unggahan video tersebut terlihat mahasiswi baru dibentak oleh senior.

Maba tersebut diduga tidak memakai ikat pinggang. "Ikat pinggang diperlihatkan," pinta panitia. "Nggak ada kak," jawab peserta MKKMB.

"Nggak dibaca tata tertibnya?" bentak panitia yang lain. Kemudian maba tersebut meminta maaf. Kejadian ospek online Unesa pun memantik respons warganet.

Banyak yang menyangkan hal itu terjadi. Sementara itu diketahui pelaksanaan PKKMB FIP Unesa sebelumnya disiarkan langsung melalui kanal YouTube FIP UNESA . Sejumlah dokumentasi kegiatan pun diunggah di kanal tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *