Faktor Keturunan hingga Stres Penyebab Rambut Rontok

Mengalami rambut rontok dan ituadalah hal yang biasa. Rata rata kita kehilangan sekitar 80 helai rambut setiap hari. Namun, sebagian orang mengalami rambut rontok cukup banyak. Tentu bayangan kebotakan seolah menjadi lebih dekat dan menakutkan. Faktanya, kerontokan rambut adalah masalah yang umum dialami oleh perempuan.

Dikutip dari Cosmopolitan, penelitian menunjukkan setidaknya 1 dari 3 perempuan mengalami kerontokan dan penurunan volume rambut. Kondisi ini tentu menyebabkan kekhawatiran tentang kebotakan. Tak jarang rambut rontok juga menyebabkan stres karena sulit sekali diatasi. Kondisi ini juga membuat kita bertanya tanya apa sebenarnya yang menyebabkan kerontokan rambut yang dialami.

Ada banyak hal yang dapat menyebabkan rambut rontok, di antaranya: Penyebab paling umum dari kerontokan rambut adalah riwayat keluarga atau faktor keturunan/genetik. Kondisi ini disebut androgenic alopecia atau kebotakan pada pria maupun wanita. Biasanya kondisi ini terjadi secara bertahap dan dalam pola yang dapat diprediksi.

Melansir dari Medical News Today, laki laki cenderung kehilangan rambut dari pelipis dan mahkota kepala. Pada wanita, rambut biasanya menjadi lebih tipis di seluruh kepala. Alopecia androgenetik biasanya lebih mungkin terjadi seiring bertambahnya usia seseorang. Dilansir dari Mayo Clinic, perubahan hormonal akibat kehamilan, persalinan, menopause, dan masalah tiroid dapat menyebabkan kerontokan rambut sementara maupun permanen.

Hormon memainkan peran besar dalam mengatur siklus pertumbuhan rambut. Pada kondisi kehamilan misalnya, penurunan kadar esterogen dapat menyebabkan kerontokan. Itu karena esterogen merupakan hormon ramah rambut yang menjaga rambut dalam fase pertumbuhan dalam jangka optimal.

Kondisi medis tertentu juga dapat menyebabkan rambut rontok. Salah satunya adalah alopecia areata, yang terkait dengan sistem kekebalan dan menyebabkan rambut rontok. Selain itu infeksi jamur di kulit kepala seperti kurap, dan gangguan yang disebut trikotilomania juga dapat membuat rambut rontok. Di samping kondisi medis, perawatan kesehatan tertentu juga bisa menyebabkan rambut rontok. Di antaranya adalah kemoterapi dan radiasi.

Rambut rontok bisa menjadi efek samping dari obat obatan tertentu. Misalnya saja obat yang digunakan untuk kanker, arthritis, depresi, masalah jantung, asam urat dan tekanan darah tinggi. Penggunaan pil KB dan kontrasepsi hormonal juga bisa memiliki efek serupa. Banyak orang mengalami penipisan rambut secara umum beberapa bulan setelah guncangan fisik atau emosional.

Biasanya, jenis kerontokan rambut ini bersifat sementara. Stres juga bisa memicu masalah kulit kepala, seperti ketombe, mengganggu kebiasaan makan, dan mengacaukan sistem pencernaan. Penataan rambut yang berlebihan atau gaya rambut yang menarik rambut Anda dengan kencang, seperti kuncir atau cornrows, dapat menyebabkan jenis rambut rontok yang disebut traction alopecia. Perawatan rambut tertentu juga dapat menyebabkan rambut rontok. Jika jaringan parut terjadi, rambut rontok bisa menjadi permanen.

Kekurangan nutrisi bisa menyebabkan rambut rontok. Diet ekstrem yang terlalu rendah protein dan vitamin tertentu, seperti zat besi, terkadang dapat menyebabkan kerontokan rambut yang berlebihan. Ini karena zat besi sangat penting untuk memproduksi protein sel rambut. Dengan kata lain kekurangan zat besi dapat mempengaruhi rambut rontok. Selain zat besi, kekurangan vitamin B12 juga dapat menyebabkan rambut rontok.

Itu karena dapat mempengaruhi kesehatan sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh, termasuk rambut. Penurunan berat badan secara drastis dapat mempengaruhi kondisi rambut. Hal ini biasanya juga berhubungan dengan kekurangan nutrisi secara drastis pada tubuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *