Rhenald Kasali Paparkan Dua Modal yang wajib Dimiliki Masyarakat buat Survive di Masa Pandemi

– Profesor Rhenald Kasali memaparkan dua modal yang harus dimiliki masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid 19. Guru Besar bidang ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu menyebut berbicara soal sumber daya manusia (SDM) itu berarti berbicara soal dua modal utama yang ada pada diri manusia, yakni kesehatan dan pendidikan. Modal yang paling utama dijelaskannya adalah kesehatan dan nilai budaya yang dapat dianut, sebagai modal kepribadiannya.

“Apakah dia jujur dan sebagainya. Jadi kalau dompet kita hilang bisa lah kita cari duit lagi, tapi kalau nama baik kita ilang itu susah. Itu yang pertama,” kata Rhenald. Modal kedua yang dipaparkannya adalah modal insani yakni pendidikan, untuk menunjukkan kapabilitas seseorang. Namun dijelaskannya orang yang memiliki pendidikan tinggi tidak menjamin memiliki kapabilitas yang mumpuni.

“Ada orang yang memiliki pendidikan tinggi tapi tidak memiliki kapabilitas itu banyak terjadi,” katanya. Persoalan pertama yang sering kali menjadi paradigma di masyarakat Indonesia, pendidikan yang tinggi itu sama dengan kecerdasan, padahal menurutnya dua hal itu berbeda. Pendidikan dijelaskan Prof Rhenald merupakan suatu alat yang diberikan di sekolah dasar hingga jenjang perguruan tinggi yang kerap disebut kecerdasan intelektualitas.

Namun hal tersebut menurutnya tidak selalu dapat mengukur kecerdasan lainnya, seperti kecerdasan emosional, kecerdasan membangun relasi dengan orang, kecerdasan moral, kecerdasan teknologi, kecerdasan eksploratif, dan sebagainya. “Ditengah pandemi kehidupan ini berubah tiba tiba menjadi dunia digital. Kita menemui kendala, orang seusia saya dituntut untuk memiliki kemampuan teknologi,” katanya “Tidak harus bikin tik tok tapi bisa lah menggunakan video dan ilmu pengetahuan di dunia online,”lanjut Rhenald

Prof Rhenald menambahkan satu kecerdasan lagi yang dibutuhkan saat ini adalah kecerdasan kontekstual. Algoritma di era digital seperti saat ini membuat seseorang terjebak dalam sebuah kotak yang jika tidak disikapi dengan bijak akan berdampak tidak baik tanpa adanya validasi. “Misalnya anda tidak suka dengan Presiden Jokowi maka ketika anda sekali membuka hal berbau negatif di internet tentang Jokowi, maka akan dikirimi terus konten konten yang tidak menyukai Jokowi dan anda tidak melakukan validasi maka anda tidak memiliki kecerdasan kontekstual,” ujar Rhenald.

“Manusia yang cerdas adalah manusia yang bisa melakukan validasi, jadi tidak serta merta mengadili,” lanjutnya “Di zaman ini tidak hanya cukup memiliki kecerdasan intelektual tapi juga harus memiliki kecerdasan intelegensi dan memiliki keterampilan,”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *