Tanggapi Penolakan Jenazah Covid-19, Ganjar Pranowo: Ini Peristiwa yang Menyakitkan Hati

Di tengah merebaknya wabah virus corona Covid 19, stigma terhadap tenaga medis maupun pasien positif turut berkembang di masyarakat. Bahkan, pasien positif Covid 19 yang meninggal dunia juga harus mengalami penolakan. Terbaru, kasus penolakan jenazah perawat di RSUP Dr Kariadi, Semarang yang dinyatakan positif virus corona dan meninggal dunia pada Kamis (9/4/2020).

Menanggapi adanya kasus penolakan jenazah pasien virus corona Covid 19, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun kembali buka suara. Melalui akun Twitternya yang terverifikasi @ganjarpranowo, Ganjar Pranowo mengunggah utas yang terdiri dari dua video pendek yang diberi caption: "Jangan tolak jenazah

~thread~" Dalam video tersebut, Ganjar Pranowo mengingatkan masyarakat untuk tidak menolak jenazah pasien Covid 19. Hal itu, menurutnya, adalah peristiwa yang menyakitkan hati.

Ganjar menegaskan, pengurusan jenazah pasien Covid 19 sudah memenuhi syarat dan prosedur yang baku, baik dari segi medis maupun agama. Terkhusus jenazah perawat positif Covid 19 di Semarang yang ditolak warga, Ganjar mengingatkan bahwa masyarakat seharusnya menghormati jasa para tenaga medis yang berjuang melawan virus corona. Bukan menolak jenazahnya.

Ganjar Pranowo meminta masyarakat untuk melihat kembali rasa kemanusiaan. Sebab, di tengah pandemi virus corona Covid 19 ini, rasa kemanusiaan benar benar sedang diuji. Berikut transkrip lengkap dari pernyataan Ganjar Pranowo yang disampaikan melalui unggahan video di akun Twitternya, Jumat (10/4/2020) pukul 19:28 WIB.

"Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Bapak ibu warga Jawa Tengah, saya mendapatkan laporan yang mengejutkan, peristiwa yang membuat 'tatu ati' (sakit hati, red.). Sekelompok warga Ungaran menolak pemakaman pasien Covid 19.

Ini kejadian ke sekian kali. Dan saya mohon maaf, saya ingin kembali mengajak bapak ibu untuk 'ngrogoh rasa kamanungsan' (merogoh rasa kemanusiaan, red.) yang kita miliki. Sekali lagi saya sampaikan, Bapak ibu, pengurusan jenazah pasien Covid 19 sudah dilakukan dengan standar yang aman, baik dari segi agama maupun medis.

Mulai dari penyucian secara syar'i, kemudian dibungkus kantung plastik yang tidak tembus air hingga dimasukkan peti. Dan seperti yang sudah ditegaskan para ahli kesehatan, ketika jenzah itu dikubur, secara otomatis virusnya akan mati, karena inangnya juga mati. Saya tegaskan sekali lagi, kalau jenazah itu sudah dikubur, virusnya ikut mati di dalam tanah, tidak bisa keluar kemudian menjangkiti warga.

Majelis Ulama pun sudah berfatwa bahwa mengurus jenazah itu wajib hukumnya. Sementara, menolak jenazah itu dosa. Karena itu, saya berharap kejadian di Ungaran ini adalah yang terakhir kali.

Jangan ada lagi penolakan jenazah, apalagi seorang perawat yang seharusnya kita hormati atas jasanya sebagai pahlawan kemanusiaan. Dia adalah seorang pejuang karena berani mengambil risiko besar dengan merawat pasien Covid 19. Padahal ia tahu, itu mengancam keselamatannya."

"Para perawat, dokter, dan tenaga medis tidak pernah menolak pasien. Kenapa kita tega menolak jenazah mereka yang telah berkorban untuk menyelamatkan kita? Bapak ibu, semestinya kita memberi hormat dan penghargaan kepada seluruh tenaga medis di mana pun berada, serta mendoakan agar mereka selalu diberikan kekuatan dan kesehatan.

Kepada perawat, dokter, dan tenaga medis, mewakili seluruh warga Jawa Tengah saya mengharap maaf dari 'panjenengan' (Anda, red.) semua. Mari tetap berjuang bersama sama melawan corona Dan kepada pihak pihak yang mengurus pemakaman jenazah Covid 19, tolong… sekali lagi tolong, berkomunikasi dengan pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat.

Kalau warga sudah paham, saya yakin semua akan menerima dan juga akan mencegah berkembangnya isu yang tidak benar atau hoaks yang seringkali ini memecah belah masyarakat. Bapak ibu, mohon sekali lagi jangan ada penolakan pemakaman jenazah. Karena sekarang ini, 'rasa kamanungsan' (rasa kemanusiaan, red.) kita benar benar diuji.

Semoga kita selalu diberi kekuatan oleh Tuhan Yang Maha Esa, Allah Subhanawata'ala. Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *