Pemerintah Diminta Lakukan Inovasi di Bidang Pangan agar Tidak Bergantung pada Bahan Impor

Pandemi virus corona atau Covid 19 tidak hanya mengakibatkan terjadinya krisis kesehatan. Namun, juga ada kekhawatiran berdampak pada ketersediaan bahan pangan. Demikian hal itu disampaikanMantan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga pengusaha nasional Sandiaga Salahudin Uno di Jakarta, Kamis (4/6/2020). “Bukan cuma kita saja, semua negara dunia merasakan adanya tekanan kemungkinan terjadinya krisis (pangan) global,” kata Sandiaga Uno

Menurut Sandiaga, Indonesia sebagai Negara yang masih mengandalkan beberapa komoditas berasal dari impor sangat rentan terdampak bila terjadi krisis global. Pasalnya, berdasarkan data sebelum pandemi Covid 19, 35% pasokan bawang putih di Tanah Air berasal dari impor. Lalu, 24% persediaan daging dan 55% gula juga dari luar negeri. Di satu sisi, beberapa pihak mengusulkan pemerintah untuk impor bahan pokok guna memenuhi kebutuhan dalam negeri di tengah pandemi corona.

“Kalau kondisi yang terdesak negara negara lain yang biasa mengeskpor pangan akan sangat selektif, mereka pasti harus memenuhi pasar lokalnya dulu,” katanya. Di sisi lain, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia yang terus naik, bahkan diprediksi dengan kemungkinan terburuk jumlah korban PHK mencapai 7 sampai 8 juta orang. Hal tersebut akan memicu penurunan daya beli masyarakat di tengah pandemi. Oleh karena itu, Mantan Calon Wakil Presiden 2019 2024 ini mengatakan perlu ada skenario untuk meningkatkan daya beli masyarakat di tengah ancaman kenaikan harga pangan, salah satunya dengan adanya inovasi di bidang pangan.

Sandiagamendorong adanya teknologi untuk meningkatkan produksi pangan dalam negeri dengan mengadopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Internet of Things (IoT), ATM beras, dan lainnya. “Jangan sampai kita terus menerus bergantung pada bahan pangan yang impor, jadi harus ada inovasi di bidang pangan,” harapnya. Selain itu, mantan Ketua Umum HIPMI ini mendorong agar memaksimalkan e commerce untuk mendistribusikan komoditas pangan dan membuka akses pasar.

“Kita perlu digitalisasi pasar pangan, karena kita pasar e commerce terbesar di Asia, market sudah terbentuk tinggal kita bagaimana melakukan pendekatan supaya pasar ini menghasilkan invoasi anak bangsa untuk mendukung ketahana pangan,” pungkasnya. “Mari pakai produk buatan dalam negeri, buka lapangan kerja seluas luasnya, dan kendalikan harga bahan pokok,” ajak Sandi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *