NTT Jadi Contoh Produsen Garam Industri

Provinsi Nusa Tenggara Timur dapat menjadi contoh produksi garam. NTT memiliki potensi besar dalam pengembangan industri garam nasional khususnya garam industri. Politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem), Rahmat Gobel, mengatakan pemerintah Indonesia harus berupaya mengurangi ketergantungan impor garam dengan cara memproduksi garam di dalam negeri. NTT merupakan sebuah wilayah kepulauan yang terdiri dari 1.192 pulau, 432 pulau diantaranya sudah mempunyai nama dan sisanya belum. Dari jumlah itu, 42 pulau dihuni dan 1.150 pulau tidak dihuni dengan tiga pulau utama dan terbesar yakni pulau Flores, Sumba dan Timor.

Luas wilayah daratan 48.718,10 km² atau 2,49% luas Indonesia dan luas wilayah perairan ± 200.000 km² diluar perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). NTT didukung musim kemarau yang panjang mencapai 9 hingga 10 bulan dan termasuk daerah panas. Hal ini menjadi potensi untuk pengembangan industri garam di dalam negeri. Adanya industrialisasi garam bukan hanya sekedar membangun tambak garam, tetapi juga membangun kawasan lingkungan yang asri, ikut membangun kawasan sekitar.

"Tambak garam bukan hanya sekedar tambak, tetapi membangun kawasan lingkungan yang asri. Contoh di NTT," kata Wakil Ketua DPR RI tersebut. Melihat hal itu, kata dia, seharusnya izin impor garam hanya diberikan kepada pengusaha yang benar benar mau membuat tambak garam untuk produksi garam baku industri seperti di Nusa Tenggara Timur. “Kasih izin impor ke pelaku usaha yang membangun tambak garam,” tuturnya.

Harapannya, garam bahan baku industri dapat di produksi 3 4 juta ton pertahun di dalam negeri. Selain itu, dia menilai, pemerintah perlu memberikan insentif kepada pengusaha yang serius membangun lahan garam, karena membantu pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor. "Orang yang serius bangun tambak garam sebaiknya dikasih izin sampai beberapa tahun sehingga merasa yakin yang dilakukan tidak rugi, sedangkan yang bangun tambak tidak dapat insentif malah insentif dikasih kepada pedagang (importir) saja, ini tidak fair,” tambahnya.

Sebelumnya Plt Dirjen Pengolalaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Aryo Hanggono mengatakan garam bahan baku industri mempunyai spesifikasi dengan kandungan NaCl pada garam minimal di atas angka 97%. "Hingga saat ini kandungan NaCl pada garam dalam negeri masih dibawah 97%,” ucap Aryo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *