Minggu Depan Dia Masuk TK Bocah 5 Tahun Dicabuli & Dibunuh Pengantin Baru Ibu Korban Menangis

Bocah berinisial RR atau RH (5) menjadi korban pembunuhan pasangan pengantin baru, yakni MT (27) dan IM (19) di Pasuruan, Jawa Timur. Ibu korban, Satuha, menangis karena sangat terpukul dengan kepergian anaknya dengan cara mengenaskan tersebut. Sebelum kejadian nahas itu, Satuha sempat melihat putrinya bersama pelaku dan ia tak memiliki pikiran buruk apapun.

"Saya melihat siang siang itu. Saya biarkan saja, pikiran saya mungkin anak saya mau dibelikan jajan. Saya juga tidak menyangka kejadiannya sampai seperti sekarang ini," ungkap Satuha. Setelah itu, putrinya tak kunjung pulang hingga Satuha kebingungan mencarinya. Akhirnya tetangga pun memberi kabar buruk bahwa anak Satuha ditemukan meninggal dunia.

Satuha menyebut putrinya itu sebentar lagi akan bersekolah. Bahkan ia sempat memilih peralatan sekolahnya sendiri. "Anak itu mau masuk sekolah. Minggu depan dia masuk TK. Kemarin dia sudah memilih sendiri seragamnya, tasnya, dan perlengkapan sekolah lainnya. Itu yang membuat saya sedih," tuturnya.

Satuha mengenang anaknya yang sangat bersemangat hingga memakai seragam tiap hari. "Sampai saya kasih nasihat 'Jangan dipakai terus seragamnya, nanti kusut nak'. Setiap hari maunya pakai seragam dan perlengkapan sekolah," kata Satuha sambil menangis. Pembunuhan yang disertai dengan perampokan dan pemerkosaan itu didasari alasan tak puas dengan istri hingga keinginan membeli sosis dan kopi susu.

Kepada Rofiq, MT mengaku merampok perhiasan yang dikenakan RH karena butuh uang untuk membeli sosis dan kopi susu. "Saya butuh uang pak, untuk beli sosis dan kopi susu," kata MT. Selain itu, MT juga mengaku membunuh korban lantaran takut dengan orangtua korban.

"Makanya saya bunuh setelah saya rampas perhiasannya, kalau tidak, saya takut sama orangtua dia (korban)," ujar MT. Tak cukup sampai di situ, alasan lain juga melatarbelakangi tindak pemerkosaan MT terhadap bocah itu. MT mengaku tidak puas dengan rumah tangganya bersama IM yang baru berumur dua minggu.

Sehingga MT ingin merasakan sensasi hubungan seks dengan orang lain. Pasutri yang kini menyandang status sebagai tersangka itu awalnya membujuk korban untuk masuk rumah mereka, Selasa (7/7/2020) pukul 10.00 WIB. Korban yang awalnya bermain di sungai pun menuruti pelaku karena ada iming iming es krim.

"Pelaku memberi iming iming korban akan dibelikan es krim," kata Rofiq, saat dikonfirmasi, Rabu (8/7/2020) malam. Setelah masuk rumah pelaku, korban diminta untuk melepas perhiasannya, yakni lima buah gelang dan satu kalung. Perhiasan korban akhirnya ditemukan di lemari pelaku saat penyelidikan.

"Saat pemeriksaan, barang bukti perhiasan ditemukan polisi di lemari pelaku," ungkap Rofiq. Di dalam rumahnya ketika sang istri pergi, MT sempat mencabuli korban sebanyak dua kali. Hal ini diakui oleh MT dan hasil visum korban pun menunjukkan adanya luka di bagian intim korban.

Setelah tindakan bejat itu, pasutri tersebut membawa korban ke tengah sawah. Kepala korban dipukul hingga terjatuh di sawah lalu kepalanya ditenggelamkan. "Lalu kepala korban ditenggelamkan ke air yang berlumpur sampai tubuhnya tidak bergerak," ujar Rofiq.

Rofiq menyebut pihaknya masih terus mendalami motif pembunuhan tersebut. Bahkan pihak kepolisian juga melibatkan ahli kejiawaan lantaran aksi keji pasutri ini dinilai di luar nalar. "Motif sesungguhnya masih kami dalami. Aksi suami istri ini di luar nalar berpikir," kata Rofiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *