Liverpool & Inter Milan Intip Peluang Coutinho Kesulitan Berbagi Peran Bersama Messi di Barcelona

Nama Philippe Coutinho selalu bersinonim dengan pemain berkualitas. Sejak kiprahnya di Inter Milan ketika diboyong dari klub Liga Brasil, Vasco da Gama pada usia 17 tahun, gelandang asal Brasil itu kini menjadi pemain yang sangat bertalenta. Teknik individunya tidak perlu dipertanyakan lagi, Coutinho adalah salah satu nomor 10 terlengkap di era modern ini.

Namun, anehnya, justru nasibnya sedikit terombang ambing setelah Bayern Munchen tidak berminat mempermanenkannya dari Barcelona. Sementara Barcelona, juga tampak tidak terlalu membutuhkan sosok Coutinho di tim. Apa yang terjadi sebenarnya? dan spekulasi tim berlabuhnya Coutinho juga kembali menguat.

Michael Butler dari The Guardian dan Michael Cox dari The Athletic, menjelaskan bagaimana Coutinho dari awal kariernya hingga permainannya. Didatangkan dari Vasco da Gama oleh Inter Milan pada 2008, Coutinho langsung digadang gadang sebagai talenta potensial. Bagaimana tidak, usianya saat itu 16 tahun.

Massimo Moratti, pemilik Inter Milan kala itu bahkan menjamin, dalam satu musim, Coutinho akan menjadi pilihan utama. Enam Manajer kemudian, Coutinho justru kesulitan. Ia tidak pernah bisa memenuhi ekspektasi dari supporter Inter Milan.

Keputusan bijak diambil Claudio Ranieri denganmengirim Coutinho ke Esepanyol pada 2012. Saat itu, Mauricio Pochettino menjadi pelatih kepala. Lima gol langsung ia cetak dalam 16 penampilan, mengundang decak kagum dan menjadi perbincangan, sejumlah klub tertarik merekrut sang pemain, Liverpool menjadi tim yang beruntung.

Bergabungnya Coutinho ke Inter Milan, tidak lepas dari peran Rafael Benitez yang merekomendasikan Coutinho kepada Damien Comoli yang saat itu menjabat direktur olahraga Liverpool. Bersama Liverpool, talentanya disempurnakan. Ia adalah pemain nomor 10 terbaik bagi Liverpool.

Kerjasamanya dengan Mane Salah Firmino menjadikan Liverpool menjadi tim yang paling berbahaya ketika menyerang di Liga Inggris. Coutinho kemudian hengkang ke Barcelona. Tujuannya, tentu mendapatkan gelar Liga yang nihil ia dapatkan kala membela Liverpool.

Kepindahan ke Barcelona justru membuat kariernya seolah redup. Cedera dan gagal menunjukkan penampilan yang impresif menjadi faktornya. Apa yang terjadi dengan Coutinho, sejatinya sudah digambarkan jelas oleh Jurgen Klopp ketika melepas sang playmaker ke Barcelona.

Berkebalikan dengan The Kop, Jurgen Klopp justru tampak senang ketika Coutinho hengkang. Meskipun menjadi pemain bintang bagi Liverpool, Coutinho adalah “beban” bagi The Reds. Liverpool menggunakan skema 4 3 3 musim ini, dengan 3 gelandang pekerja : Wijnaldum, Jordan Henderson, Fabinho/James Milner.

Ketiganya punya tugas bertahan dan menyerang, hal berbeda ketika Coutinho masih di Liverpool. Coutinho akan menjadi playmaker di belakang Salah, Mane, Firmino. Keempatnya menjadi penyerang yang dinamis dan menekan, tetapi, ketika bertahan, tendensi Coutinho untuk tidak mundur ke garis pertahanan membuat beban dua gelandang tengah sangat berat.

Karena di satu sisi, fullback Liverpool diharamkan hanya diam ketika menyerang. Mereka dituntut membantu penyerangan dan ketika gagal, tentu tugas gelandang bertahan menutup celah tersebut. Hal tersebut makin diperparah dengan Coutinho yang juga terlalu maju dan kerap terlambat mengantisipasi serangan balik.

Di Barcelona, masalahnya serupa tapi tak sama. Peran Coutinho memang dibutuhkan Barcelona, apalagi dengan hengkangnya Iniesta, tetapi, masalahnya di Barcelona terdapat Lionel Messi. Beberapa kesempatan, Sid Lowe, jurnalis asal Spanyol, menjelaskan, bagaimana ‘penumpukan’ peran terjadi ketika Messi dan Coutinho dimainkan bersamaan.

Coutinho, punya tendensi membawa bola dan melakukan akselerasi, meskipun juga memberikan umpan dengan baik, tetapi peran itu sudah dilakukan Messi. Messi akan menjemput bola dari lini tengah, melakukan kerjasama dengan pemain depan dan mencetak gol, hal yang mirip dilakukan Coutinho. Ini diakui oleh Luis Suarez, pernah berduet bersama kala di Liverpool.

Penyerang asal Uruguay ini terkadang kebingungan dalam memposisikan diri ketika Coutinho dan Messi dimainkan bersamaan. Belum sempat menunjukkan penampilan terbaik, Coutinho juga mengalami cedera cukup panjang, yang membuatnya absen selama beberapa bulan. Di Bayern Munchen, Coutinho memang cukup subur dengan mengemas 8 gol dan 6 asis di Bundesliga.

Namun, keputusan Bayern Munchen tidak mempermanenkan Coutinho, juga adalah masalah taktikal. Bayern Mucnhen memiliki banyak gelandang di lini tengah dan semuanya bisa dikatakan bisa bermain seperti Coutinho. Seperti Leon Goretzka, Thiago Alcantara hingga Tolisso atau Joshua Kimmich, membuat mubazir bagi Bayern Munchen mempermanenkan Coutinho.

Ditambah lagi, permainan Bayern Munchen fokus dalam mengalirkan bola ke sayap alih alih menusuk melalui tengah. Hal ini juga menjadi pertimbangan The Bavarians tidak mempermanenkan Coutinho. Spekulasi kemudian muncul, sang agen sempat menghembuskan kabar, Coutinho akan kembali ke Liverpool.

Bak gayung bersambut, Liverpool juga dikabarkan berminat kembali mendatangkan sang pemain. Jika benar, maka akan ada sedikit perubahan. Dengan Coutinho tidak lagi menjadi sentral permainan, tetapi akan digeser menjadi gelandang serang di belakang Salah dalam skema 4 1 2 3.

Posisinya akan mirip dengan yang diperankan Chamberlain musim ini. Menarik melihat kemana Coutinho berlabuh, apakah tetap bertahan dan mencoba merebut posisi reguler di Barcelona? Atau kembali ke pelukan Liverpool musim depan?

Tetapi, akan menarik melihat romansa lama apabila Coutinho hengkang ke Inter Milan, hal yang bisa saja terjadi dengan dana melimpah sang pemilik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *