Jadi Tersangka Oknum Polisi Cabuli Siswi SMP di Hotel Sebagai Pengganti Tilang Tawarkan Damai

Nasib malang dialami seorang siswi SMP. Siswi SMP berinisial S (15) ini diduga dicabuli oleh seorang oknum polisi. Oknum polisi yang diduga mencabuli S diketahui berinisial Brigadir DY.

Brigadir DY sendiri diketahui merupakan anggota Satlantas Polres Pontianak. Saat ini Brigadir DY sudah diamankan terkait dugaan pencabulan terhadap S. Kasus berawal ketika S yang masih di bawah umur ini melanggar lalu lintas di Jalan Sultan Hamid, dekat Simpang Garuda, Pontianak, Kalimantan Barat.

Kala itu berboncengan dengan seorang temannya. Ia dan temannya melanggar aturan lalu lintas lantaran tak mengenakan helm. Melihat S dan temannya tak memakai helm, Brigadir DY pun menilangnya.

Namun ternyata S dan temannya menolak untuk ditilang. Ia kemudian meminta keBrigadirDYuntuk tidak menilang. Brigadir DY lalu menyuruh teman S untuk pulang.

Sedangkan S dibawa ke sebuah hotel olehBrigadirDY. Di hotel tersebutBrigadirDYdiduga mencabuli S secara paksa. Kapolresta Pontianak Kombes PolKomarudinmengatakan pihaknya sudah melakukan penyelidikan terhadap kejadian tersebut.

Komarudin mengatakan saat iniBrigadirDYsudah ditahan. Kini Kepolisian masih memeriksaBrigadirDYatas tuduhan pencabulansiswiSMP. "Yang bersangkutan melanggar disiplin, karena yang bersangkutan bukan anggota lapangan, dan saat dilaporkan, dia sedang berada di lapangan," kata Kapolres Pontianak.

Komarudin menegaskan ia akan sangat serius menangani kasus tersebut. "Yang dapat saya pastikan dan saya jaminkan, kepada pelapor, bahwa proses hukum akan kita tindaklanjuti, manakala hal tersebut terbukti benar," tegasnya. "Kita pastikan sekali lagi, kita serius menangani kasus ini, karena kalau ini benar, ini mencoreng citra Polri di tengah upaya yang saat ini kita lakukan terkait profesionalitas Polri," jelasnya.

Selain memeriksa oknum terduga pelaku, pihaknya juga langsung memintakan visum terhadap terduga korban. "Saat ini kita masih menunggu hasilnya," ungkap Kapolres. Beredar kabar keluargaBrigadirDYmelakukan upaya damai dengan korban.

Kapolresta Pontianak KombespolKomarudinmenegaskan bahwa kendati kedua belak pihak antara pelapor dan terlapor berdamai, proses hukum pidana tetap akan berlanjut. "Menurut saya itu sah sah saja, dan ini lazim di lakukan penyelesaian kekeluargaan, namun yang perlu digaris bawahi disini, hal itu tidak memutus pidana, proses hukum tetap berjalan, walau pun ada perdamaian antara pelapor dan terlapor,"jelasKomarudin, kepada awak media, Minggu (20/9/2020). Komarudin menegaskan, pihak penyidik saat ini terus melakukan pemeriksaan, serta menunggu hasil visum dari dokter.

Dugaan Kasus pencabulan ini, diterangkan Kapolresta bukan hanya merugikan pelapor, namun Kepolisian khususnya Polresta Pontianak juga turut dirugikan. "Atas kasus ini, yang jadi korban kita semua, termasuk institusi Polri, karena tercoreng atas ulah oknum tersebut," tuturKomarudin. Saat ini, di katakan Kapolres bahwa terlapor oknum anggota Satlantas Polresta Pontianak yang diduga melakukan perbuatan Cabul itu sudah di tahan di sel tahanan Mapolresta Pontianak sejak pertama Pelapor melaporkan oknum tersebut, Selasa (15/9/2020).

"Saat itu juga, kita langsung amankan, kebetulan saat itu terlapor ada di sekitar Polresta, langsung kita amankan, dalami, kita langsung masukan sel, ini merupakan bentuk keseriusan kami, kami tidak main main, setiap bentuk pelanggaran yang dilakukan anggota, langsung kita proses," tegasKomarudin. Karenanya ia pantas dipecat dari Lembaga Polri. "Nasibnya mirip dengan paraoknumpolisilainnya yang juga diberhentikan secara tidak hormat oleh Polri," kata Reza kepada Warta Kota, Minggu (20/9/2020).

"Pemecatan terhadap para polisi nakal tersebut memang sudah semestinya. Salut untuk ketegasan Polri," tambah Reza. Menurut Reza, pemecatan terhadap para personel nakal atau oknum, memang membersihkan lembaga. "Baik untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. Tapi ketika oknum tersebut lepas dari kontrol atau tanggung jawab, bekas lembaganya, dikhawatirkan itu laksana membuang serigala ke kumpulan domba," kata Reza.

Apalagi kata dia, di zaman sulit ini, dengan kondisi tanpa pekerjaan semakin menambah faktor risiko, bagi pecatan untuk masuk ke bidang kerja yang hitam. "Jadi, alih alih menyelesaikan masalah, pemecatan tok, malah bisa menambah gangguan terhadap rasa aman masyarakat," ujarnya. Karena itu, kata dia, baik kiranya Polri juga mengadopsi pendekatan di beberapa negara.

"Dimana, pecatan personel tetap dipantau. Bahkan kepada masyarakat disediakan database untuk melacak keberadaan para pecatan," katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *