Ini Penyebabnya Perawat Hingga Sopir Ambulans di Ogan Ilir Mogok Kerja

Gara gara diminta mengevakuasi warga yang terkonfirmasi positif virus corona atau Covid 19 di Kecamatan Sungai Pinang, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, puluhan tenaga medis mogok kerja. Melansir Kompas.com, tenaga medis yang mogok kerja tersebut mulai dari perawat hingga pengemudi ambulans di Rumah sakit Umum Daerah ( RSUD) Ogan Ilir, Jumat (15/5/2020) dua hari lalu. Menurut sumber kepada Kompas.com, sikap puluhan tenaga medis tersebut berawal saat mereka yang jumahnya 60 orang tak mendapat surat tugas dari Gugus Tugas Penanganan Covid 19 Ogan Ilir.

Selain itu, mereka yang mayoritas tenaga honorer itu juga tidak mendapatkan kejelasan soal insentif dalam menangani warga positif Covid 19. Sehingga, ke 60 tenaga medis itu menolak dan melakukan mogok kerja. Persoalan APD yang dianggap tidak standar juga menjadi alasan tenaga medis itu akhirnya memutuskan mogok kerja.

Akibatnya, 60 orang tenaga medis itu dianggap mengundurkan diri sebagai tenaga honorer di RUSD Ogan Ilir. “Tenaga paramedis tidak mau melaksanakan perintah pihak rumah sakit karena tidak ada surat tugas, selain itu tidak ada kejelasan soal insentif bagi mereka," kata Sumber tersebut kepada Kompas.com. "Mereka hanya menerima honor bulanan sebesar Rp 750 ribu, sementara mereka dminta juga menangani warga yang positif Covid 19,” jelas sumber tersebut.

Selain itu, penolakan tenaga medis dalam melaksanakan instruksi pihak RSUD Ogan Ilir itu, juga karena tidak ada kejelasan soal rumah singgah bagi tenaga medis untuk beristirahat atau untuk berganti pakaian sebelum pulang ke rumah. “Mereka khawatir jika langsung pulang akan menulari keluarga mereka,” tambah sumber tersebut. Direktur RSUD Ogan Ilir Roretta Arta Guna Riama yang dikonfirmasi melalui telepon Minggu (17/5/2020) membenarkan adanya sejumlah tenaga medis yang melakukan aksi mogok kerja tersebut.

Namun, ia membantah berita yang mengatakan bahwa mogoknya tenaga medis itu karena soal insentif, APD yang tidak standar, atau soal rumah singgah yang tidak tersedia. Menurut Roretta, penolakan tenaga medis itu karena mereka ketakukan menangani pasien Covid 19. “Mereka lari ketakutan saat melihat ada pasien yang positif Covid 19," jelas Roretta.

“Tidak ada tenaga dokter, mereka para tenaga medis seperti perawat dan sopir ambulans, mereka itu takut menangani pasien positif Covid 19, itu saja, bukan karena soal lain,” tambah Roretta. Dokter Roretta menambahkan, soal insentif dan rumah singgah sebenarnya sudah disiapkan. Namun, untuk besarannya ia mengaku lupa.

Untuk rumah singgah bagi tenaga medis juga sudah disiapkan sebanyak 35 kamar di Komplek DPRD Ogan Ilir. “Untuk besaran jumlahnya saya tidak hapal, sedangkan untuk rumah singgah kita siapkan 35 kamar di kompek DPRD Ogan Ilir,” terangnya Roretta membantah jika tenaga medis itu sudah dipecat. Namun ia membenarkan jika mereka tetap tidak masuk kerja maka akan ada sanksi displin.

“Kita tidak memaksa, jika mereka tetap tidak mau masuk kerja ya silakan, kita juga sudah membuka penerimaan untuk tenaga paramedis baru mulai senin, kita tidak bisa menunggu sebab penanganan pasien positif Covid 19 harus tetap berjalan," ucap Roretta. "Apalagi Ogan Ilir per hari ini pasien positif Covid 19 sudah mencapai angka 40 orang ” jelas Roretta. Terakhir, Roretta mengimbau tenaga medis yang mogok untuk kembali bergabung dengan tenaga medis lainnya di RSUD Ogan Ilir.

"Kami masih menginginkan mereka bergabung di RSUD Ogan Ilir, soal APD kami pastikan lengkap, sebab kita juga tidak ingin tenaga medis kami terpapar Covid 19, besok kita akan undang mereka bertemu," jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *