Bacaan Niat Puasa Ramadhan 1441 H Lengkap dengan Artinya, Ketahui Hal yang Membatalkan Pahala Puasa

Inilahbacaan niat puasa Ramadan 1441 Hijriah yang dilengkapi dengan artinya serta ketahui hal hal yang dapat membatalkan pahala puasa berikut ini. Umat muslim di Indonesia telah mulai menjalankan ibadah puasa sejak Jumat (24/4/2020) lalu. Sebelumnya, pemerintah telah menetapkan awal Ramadan 1441 Hijriah setelah diselenggarakannya sidang isbat pada Kamis (23/4/2020).

Menteri Agama Fachrul Razimenyampaikan bahwa berdasar hasil sidang isbat, pemerintah menetapkan awal Ramadan 1441 H jatuh pada 24 April 2020. "Dapat kami laporkan bahwa, menurut laporan titik titik rukyatul hilal, posisi hilal di atas ufuk berkisar antara 2 derajat 41 menit sampai dengan 3 derajat 44 menit," terang Fachrul dalam konferensi pers yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Kemenag RI, Kamis malam. "Karenanya, kami dengan suara bulat, menetapkan bahwa awal Ramadan 1441Hijriah jatuh pada esok hari, bertepatan dengan hari Jumat, 24 April 2020," tambahnya.

Dilansir dari laman , ketika henedak menjalankan ibadah puasa,ada baiknya umat muslim untuk meluruskan niatnya berpuasa karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebab, berpuasa tidak hanya sekadar menahan lapar saja tetapi juga melengkapi ibadah kita di bulan yang penuh berkah ini. Lantas seperti apa bacaan niat puasa di bulan Ramadan?

Berikut bacaan doa niat puasa Ramadan : نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى "Nawaitu shauma ghodin 'an adaa'i fardhi syahri romadhoona hadihis sanati lillahi ta'aalaa."

Artinya: "Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban di bulan Ramadan tahun ini, karena Allah Ta'ala." Dasar kewajiban melaksanakan puasa ini ada di surat Al Baqarah ayat 183. Artinya: “Hai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” [QS. Al Baqarah (2):183].

Dalam buku Tuntunan Ibadah Pada Bulan Ramadhan yang disusun oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah terbitan 2020 dijelaskan puasa atau Shiyam merupakan menahan diri dari sesuatu menurut bahasa. Secara istilah, Shiyam atau puasa merupakan menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual suami isteri dan segala yang membatalkan sejak dari terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah. Dekan Fakultas Adab dan Bahasa Prof. Toto Suharto mengatakan terkadang seseorang berpuasa tetapi tidak mendapatkan pahala.

Toto mengatakan, hal itu dikarenakanseseorang melakukan sesuatu yang membatalkan pahala puasa. Menurut Toto, dalam berpuasa, ada hal hal yang dapat membatalkan pahala puasa maupun membatalkan puasa itu sendiri. Hal hal yang dapat membatalkan pahala puasa, Toto mengatakan, berdasar pada aspek batini atau aspek spiritualnya.

Toto menyampaikan,tindakan yang dapat membatalkan pahala puasa harus benar benar diperhatikan supaya kita tidak merugi. Menurutnya, ada 5 hal yang harus dihindari karena dapat membatalkan pahala puasa kita. 1. Ghibah

Toto mengatakan, orang yang berpuasa harus menghindari ghibah. "Engkau menceritakan keadaan saudaramu yang muslim, walaupun engkau benar, itu namanya ghibah," kata Toto. 2. Mengadu domba dan melahirkan fitnah

3. Berbohong atau menyebar berita hoaks 4. Memandang hal yang diharamkan dengan syahwat 5. Sumpah palsu

Toto mengatakan, dengan memperhatikan hal hal yang dapat membatalkan pahala berpuasa maka insyaallah puasa kita akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Adapun hal hal yang dapat membatalkan puasa itu sendiri, yaitu perbuatanyang bersifat lahiri. 1. Makan dan minum secara sengaja

2. Muntah disegaja 3. Haid dan nifas 4. Jima (Hubungan badan suami dan istri)

Yang dimaksud jima yang membatalkan ibadah puasa jika dilakukan pada waktu puasa atau pada siang hari untuk lebih mudah pemahaman. 5. Keluar mani secara sengaja Sementara itu,Toto jugamenyampaikan, selama kita mengikuti syarat dan rukunpuasa maka puasa kita sah.

Namun, apakah puasa kita diterima atau tidak, hal ini tidak ada ketentuan yang pasti. Kendati demikian, Toto menekankan, dalam menjalankan ibadah maka umat muslim harus berkeyakinan bahwa ibadahnya diterima. "Ini (puasa) tidak ada ketentuan yang pasti yang membuat kita diterima atau tidak, tetapi kita harus punya keyakinan," kata Toto.

"Di dalam beribadah apapun, kita harus punya keyakinan, setelah puasa kita itu dilaksanakan sesuai syarat dan rukunnya maka kita yakin puasa kita diterima," tambahnya. Toto menyampaikan, terdapat dua perspektif dalam beribadah, yaitu perspektif lahiri dan batini. Menurut Toto, perspektif lahiri standarnya adalah fiqih.

"Artinya, selamasatuibadah itu dilaksanakan sesuai dengan syarat dan rukunnya maka secara lahiri itu adalah sah," lanjut Toto. "Sementara perspektif batini adalah unsurnya tasawuf atau hati, ini yang menjadi penting untuk kita pahami antara perspektif lahiri dan batini," tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *